Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

fenomena suporter bayaran ironis demi uang mereka rela gadaikan harga diri bangsa



senin . 20 03 2012
Pertandingan di tiap venue dalam Kompleks Jakabaring Sport City selalu diramaikan suporter tiap negara peserta. Ironi nya, suporter tersebut asli Indonesia yang berasal dari siswa beberapa sekolah di Palembang yang dikoordinir untuk mendukung negara lain, peserta SEA Games. Kehadiran suporter lokal tampil kompak memakai kaos putih dengan gambar bendera negara yang didukungnya. Menurut berita yg saya dapatkan, para pelajar ini seperti ada yang mengarahkan dan dikoordinir guru mereka masing-masing. Salah satu pelajar yang ditemui mengaku mereka datang dan mendukung negara lain karena disuruh guru pembimbing mereka di sekolah. "Kami disuruh pak guru memakai kaos Malaysia dan mendukung saat mereka bertanding," ujar salah satu siswi SMP di Palembang. Rata-rata pelajar ini tidak bisa menolak perintah guru mereka untuk ikut mendukung negara lain peserta SEA Games walau harus mengorbankan harga diri bangsa. "Takut dimarahi kalau menolak ikut kak, kami ikut salah satu kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, angggotanya disuruh ikut semua," jelasnya. Mereka mengaku dibayar Rp20 ribu per hari dan diberi kaos serta disediakan fasilitas transportasi dan konsumsi selama mengikuti kegiatan ini. Kehadiran suporter lokal mendukung tim lawan mulai menuai keluhan dari atlet dan penonton Indonesia yang sedang bertanding. Pada saat pertandingan senam di GOR Ranau, saat tim senam putri Indonesia bertanding, nyaris tidak ada terdengar suara dan tepuk tangan yang mendukung. Malah mereka mendukung negara Myanmar, yang kebanyakan pelajar dan mengaku berasal dari salah satu SMA Negeri di Palembang tersebut berteriak dengan kompak mendukung lawan tim senam Myanmar saat sang koordinator memberi perintah. Pada partai penyisihan Sepak Takraw, hal serupa juga terjadi, dukungan itu memicu keluhan Syamsul hadi kapten tim sepak takraw putra Indonesia. Syamsul merasa seperti bermain di negeri orang. Para suporter itu memberi dukungan dengan sangat bersemangat kepada tim lawan Indonesia. “Kami sangat menyayangkan kenapa mereka mau menggadaikan harga diri bangsa hanya karena diberi baju dan atribut negara lain," ujar Syamsul. Tanzil Zulkarnain, salah satu penonton yang melihat ulah tersebut hanya bisa menggelengkan kepala dan merasa heran. "Kalau yang bertanding Thailand lawan Laos, silahkan mereka dukung yang mana saja, tapi kalau Indonesia yang sedang bertanding, harus dukung Indonesia jangan negara lain, ini malah gak mendukung indonesia" cetusnya. (fit)
sumber : http://m.okezone.com/read/201

Keluarga dan Karakter Bangsa



Bangsa Indonesia telah mengalami pergeseran nilai dan karakter bangsa yang kian memprihatinkan. Nilai kejujuran yang menjadi indikator utama integritas sosial, kini seolah mulai tercerabut dari akar budaya bangsa ini. Ajaran adiluhung para pendiri bangsa untuk “bangunlah jiwanya dan bangunlah badannya”, seolah mengalami pembelokan. Bukannya berfokus membangun jiwa dan karakter bangsa, selama ini kita justru sibuk berlomba memoles wajah bangsa ini dengan pembangunan materi tanpa kejelasan fungsi. Lantas, bagaimana menciptakan bangsa yang berkarakter apabila generasi muda bangsa sekarang justru sudah terkontaminasi oleh cara pandang dan perilaku yang menyimpang?

Revitalisasi keluarga

Paulo Freire (1970) berpesan, sekolah hendaknya tidak hanya diposisikan sebagai media transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga harus difungsikan sebagai media pembentukan karakter positif bagi setiap individu yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Sehingga out put pendidikan tidak hanya menghasilkan masyarakat yang berpengetahuan (well-educated people), tetapi juga mampu menciptakan sebuah masyarakat yang tercerahkan dan terbebaskan (enlightened and liberalized society).

Caranya, reformulasi kurikulum perlu dilakukan dengan menitikberatkan pada pembentukan karakter anak. Pendidikan sebaiknya lebih diarahkan pada penanaman sifat-sifat keuletan, kesabaran, bekerja keras, tolerasi, dan berintegritas. Sehingga proses belajar dapat diarahkan untuk mencetak siswa yang memiliki semangat berkompetisi (fighting spirit) yang prima, tanpa harus terjebak dalam budaya dan perilaku instan. Kolektivitas dan semangat bekerja sama Antar siswa dalam kelas juga perlu ditumbuhkan untuk menghindarkan mereka dari suasa cemburu (jealous) yang berujung pada sikap saling menjatuhkan. Prinsip-prinsip dasar etika yang juga harus diprioritaskan dalam agenda reformulasi kurikulum pendidikan.

Hal penting lain yang perlu dilakukan adalah, revitalisasi peran keluarga dalam upaya penanaman prinsip etika-moral sosial dan keagaman dalam pembentukan watak dan karakter anak. Keluarga merupakan institusi primer dan fundamental bagi individu untuk mengajarkan dan menerima pendidikan dan pengajaran nilai-nilai karakter. Semakin banyak nilai-nilai positif yang ditanamkan, semakin besar harapan sang anak akan tumbuh menjadi pribadi dewasa yang bertanggung jawab, toleran, dan berintegritas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan Megawangi pada tahun 2003 menunjukkan bahwa penanaman pendidikan karakter sejak usia dini di lingkungan keluarga akan menghasilkan sikap kepribadian positif anak ketika dewasa.

Keluarga merupakan unit terkecil di mana orang tua mempunyai peranan yang besar dan vital dalam mempengaruhi kehidupan seorang anak, terutama pada tahap awal maupun tahap-tahap kritisnya karena lingkungan keluarga merupakan media untuk menumbuhkan dan mengembangkan karakter positif mereka. Selain itu, nilai-nilai sosial, norma agama, serta prinsip hidup yang diinternalisasikan melalui persinggungan dan interaksi sosial anak yang intensif dengan anggota keluarga akan lebih mudah menancap kuat di alam kesadaran anak yang kelak akan ‘sistem kontrol internal’ bagi perilaku mereka.

Karena itu, teladan sikap orang tua sangat dibutuhkan bagi perkembangan anak-anak. Hal ini penting karena pada fase perkembangan manusia, usia anak adalah tahapan untuk mencontoh sikap dan perilaku orang di sekitar mereka. Terutama bagi anak usia sekolah yaitu usia 6 sampai dengan 12 tahun, menurut teori Social Learning Vygotsy, sikap teladan orang tua menjadi hal yang vital karena pada usia tersebutlah mereka butuh penguatan karakter dari lingkungan sekitar. Dengan sikap dan teladan yang baik ditambah dengan penguatan ‘emotional bonding’ antara anak dengan orang tua, upaya infiltrasi nilai-nilai moral dan karakter yang baik pada anak akan lebih mudah untuk dilakukan. Selain itu, sikap keterbukaan antara anak dan orang tua juga sangat dibutuhkan untuk menghindari anak dari pengaruh pergeseran nilai-nilai negatif yang ada di luar lingkungan keluarga, termasuk di lingkungan sekolah.

Dengan demikian, diharapkan dalam rangka memperingati Hari Keluarga 29 Juni, peran keluarga sebagai unit pertama dan utama bagi penanaman nilai-nilai karakter bagi anak dapat kembali digalakkan fungsinya. Sehingga nilai-nilai karakter akan tertanam kuat di diri anak-anak kita. Apabila hal tersebut telah terlaksana, anak-anak dengan sendirinya akan dapat bersikap dan berperilaku sesuai dengan tahap perkembangannya. Karena dengan penguatan karakter individu anak, diharapkan mereka tidak mudah terbawa arus perkembangan negatif di lingkungan sekitar, termasuk di lingkungan sekolah.

Dengan demikian, berbagai kasus yang terjadi akhir-akhir ini mengenai pergeseran nilai karakter bangsa yang terjadi pun di lingkungan pendidikan dapat menuntun para orang tua sebagai penanggung jawab perkembangan anaknya untuk dapat menguatkan kembali fungsi keluarga sebagai benteng pertahanan bagi terjadinya pergeseran nilai-nilai karakter bangsa

Potret Dekadensi Karakter Bangsa


senin . 20 maret 2012

Maraknya tawuran, kasus bullying, dan fenomena kriminalitas di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi, menimbulkan sebuah tanda tanya besar akan realisasi fungsi Pendidikan Nasional, sebagaimana yang termaktub dalam Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003. Pendidikan Nasional yang pada hakikatnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, ternyata berbanding terbalik dengan berbagai realitas yang ada.

Kasus siswa-siswi cacat moral seperti siswi married by accident, aksi pornografi, kasus narkoba, plagiarisme dalam ujian, Bukan hanya terbatas pada peserta didik, lembaga-lembaga pendidikan maupun instansi pemerintahan yang notabene diduduki oleh orang-orang penyandang gelar akademis, pun tak luput terjangkiti virus dekadensi moral. Hasil survei Transparency International yang merupakan organisasi internasional anti korupsi menyebutkan bahwa kepolisian, peradilan, dan parlemen, masih menududuki skor tertinggi dalam nilai indeks korupsi.

Ketiga lembaga tersebut tentunya diduduki oleh orang-orang yang berlatar pendidikan memadai. Senada dengan TI, hasil riset tahun 2004, Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan adanya indikasi pola korupsi yang melibatkan kepala sekolah bersama komite sekolah, dan pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan.

Masyarakat Indonesia seperti kehilangan prinsip dan nation dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, konsep Bhenika Tunggal Ika sudah mulai luntur dari jiwa-jiwa generasi sekarang. Akan tetapi semua proses yang terjadi saat ini boleh jadi memberikan pendidikan yang berarti bagi masyarakat Indonesia dalam mencari jati diri. Menurut Sarjono Djatiman, bangsa Indonesia baru dalam proses menjadi Indonesia. Pada masa lalu, para pendiri bangsa ini melakukan proses menjadi Indonesia dimulai dari para elite dengan proses sukarela.


Masing-masing menyatakan dirinya lalu mencari unsur-unsur yang bisa dipakai sebagai pangkal tolak nation Indonesia. Nation Indonesia dibangun atas dasar prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan. Inilah yang menjadi harapan pendiri bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki jati diri.

Jika Pendiri bangsa ini (the founding fathers) masih sempat menyaksikan kondisi bangsa saat ini tentu mereka akan sangat sedih dan menyesal. Bangsa Indonesia yang merdeka dengan mengorbankan segenap harta, jiwa dan raga harus menjadi bangsa yang tidak memiliki karakter (izzah), dan kehilangan prinsip kebangsaan.